Wednesday, February 20, 2008
6 SifaT SaHabaT
Am kaitannya dengan kerja jama'ah terdapat beberapa prinsip yang dijadikan sebagai landasan kerja dan pedoman dalam menggerakkan roda dakwah serta menjiwai kerja dakwah jama'ah. Dalam jama'ah prinsip tersebut dikenal dengan Enam Sifat Sahabat yang senantiasa diulang-ulang dalam muzakarah jama'ah dengan tujuan agar enam sifat sahabat yang diyakini tersebut dapat berkesan dalam diri dan hati setiap individu jama'ah, untuk kemudian sedikit demi sedikit dapat diamalkan. Menurut keyakinan jama'ah apabila enam sifat sahabat ini ada dalam setiap individu muslim, maka agama pun akan ada dalam dirinya dan akan mudah mengamalkannya.
Enam sifat sahabat yang sering di muzakarohkan jama'ah tersebut mengandung tujuan yang hendaknya dimiliki oleh setiap individu muslim dalam mengembangkan amanah dakwah. Adapun enam sifat sahabat tersebut antara lain:
1. Mengetahui Hakikat Syahadat (Kalimat Thoyyibah)
[1] Maksud dari sifat ini adalah agar setiap muslim memiliki keyakinan yang mantap berpegang teguh pada keimanan yang benar sebagaimana yang dicontohkan Nabi dan para sahabat. Seluruh aktivitas hidup digantungkan pada Allah SWT sebagai pencipta, pemelihara dan pemberi rizki. Oleh karena itu pemahaman akan tauhid yang benar menjadi syarat yang utama dalam mewujudkan sifat ini. Kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah adalah dua kalimat yang paling inti dalam kehidupan manusia. Terlebih bagi seorang muslim. Kalimat tersebut mengandung pengertian taat kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintahnya dan manjauhi larangannya dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana firman Allah SWT: Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasulnya dan Ulil Amri. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Al-Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59) Dengan memiliki pehaman yang benar terhadap tauhid, termasuk di dalamnya pemahaman terhadap tauhid Rububiyah (Mentauhidkan Allah SWT sebagai Rabb segala sesuatu), tauhid Uluhiyah (mentauhidkan Allah SWT sebagai Illah yang haq yang wajib di sembah), dan tauhid Asma Wa Sifat (mentauhidkan Allah SWT dengan segala sifat-sifat yang ada pada-Nya)
[2] diharapkan setiap individu muslim dapat dengan sungguh-sungguh menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah. Hanya dengan cara inilah akan didapatkannya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Sifat Shalat Khusu' wal Khudu' Shalat berarti hubungan, khusu' berarti kekhidmatan atau konsentrasi dan khudu' berarti taat pada peraturan atau tertib[3]. Maksud dari prinsip ini adalah bahwa setiap individu muslim hendaknya dengan sungguh-sungguh menegakkan shalat, karena shalat adalah tiang agama. Jika shalat telah ditegakkan maka berarti agama telah ditegakkan, dan jika shalat ditinggalkan berarti telah menghancurkan agama. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus".(Al-Kautsar, 1-3) Sifat ini juga dimaksudkan agar setiap individu muslim berusaha menjaga khusu' dalam shalat dengan sifat ihsan yakni seakan-akan melihat Allah dalam setiap sholat, atau jika tidak, maka Allah SWT adalah zat yang maha melihat setiap hambanya. Sifat ini juga diharapkan agar dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan sholat mulai dari takbir hingga salam adalah simbolisme prilaku hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tumbuh sifat tawaddu' dalam diri setiap muslim.
3. Sifat Ilmu ma'a Dzikir
Ilmu adalah segala sesuatu yang mengingatkan kita kepada Allah SWT[4], maksudnya adalah bahwa ilmu yang dimiliki dapat memberi kefamahaman akan pengetahuan tentang baik dan buruk, halal dan haram, perintah dan larangan serta segala sesuatu yang dikehendaki Allah SWT untuk dijalankan. Para Sahabat r.hum diyakini memiliki sifat ini sehingga mereka diberi petunjuk oleh Allah dari kejahiliyahan kepada nur ilmu melalui Rasulullah saw. Disamping itu ilmu harus di sertai dengan dzikir kepada Allah, karena ilmu tanpa dzikir akan menyebabkan sifat sombong dan takabbur serta lupa akan kekuasaan Allah SWT. Berdzikir menyebabkan dekat pada Allah, dan dekat pada Allah menyebabkan kita akan selalu merasa berada dalam ketenangan.
4. Sifat Ikroomul Muslimin (Memuliakan Saudara Muslim)
Ikroom artinya memuliakan, dan Muslimin berarti orang muslim atau saudara muslim. Maksud dari sifat ini adalah agar setiap muslim hendaknya belajar untuk memuliakan saudara muslim, yaitu menunaikan hajat saudara muslim tanpa mengharap agar hak kita ditunaikan. Dalam sejarah permulaan perkembangan Islam diriwayatkan bahwa persaudaraan antara kaum Muhajirin Makkah dan kaum Anshar Madinah yang dibina atas bimbingan Rasulullah dan para sahabat menciptakan suatu masayarakat yang sehat dan kuat, bahkan dalam perjalanannya kehidupan masyarakat Madinah dianggap sebagai kehidupan masyarakat yang ideal bagi pembentukan suatu negara. Para sahabat mengahayati sifat ini sebagai persaudaraan sejati yang tidak hanya merupakan persaudaraan sebagai satu keturunan atau satu kesukuan, tetapi lebih tinggi lagi yaitu persaudaraan seiman dan seaqidah karena Allah SWT. Rasulullah pernah bersabda: Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah menzhalimi dan jangan pula membiarkan ia dihakimi. Barang siapa yang menunaikan hajat saudaranya, Allah akan menunaikan hajatnya. Barang siapa memberi jalan keluar kepada seorang muslim dari kesempitannya, Allah akan melepaskannya dari kesempitan hari kiamat. Dan barang siapa yang manutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya pada hari kiamat.
5. Sifat Ikhlasun Niyah (Niat yang ikhlash karena Allah)
Maksud dari sifat ini adalah agar setiap muslim dalam beramal hendaknya dilandasi dengan niat yang ikhlash semata-mata mengaharap ridho dari Allah SWT. Revitalisasi amal terletak pada niat yang ikhlas, karena setiap kita kadang kala berbuat atau beramal karena ingin dinilai oleh orang. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama dengan lurus". Rasulullah mengajarkan umatnya untuk selalu memiliki niat ikhlas dalam setiap amal-amalnya. Jika satu hal yang dikerjakan dengan niat karena Allah maka Allah akan memberikan pahala baginya. Sebagaimana Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu sebagaimana yang diniatkannya".
6. Sifat Dakwah wa Tabligh
Sifat dakwah dan tabligh adalah sifat Rasulullah. Maka dengan menghidupkan sifat dakwah dan tabligh berarti telah menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Dakwah artinya mengajak dan Tabligh artinya menyampaikan[9], maksudnya adalah bahwa setiap muslim hendaknya memiliki komitmen mengajak orang taat kepada Allah SWT, dan menyampaikan kebesaran-kebesaran-Nya. Hal ini dikarenakan manusia saat ini telah lupa akan kekuasaan Allah SWT. Dalam pandangan kaca mata agama, kerusakan yang terjadi di dunia saat ini dan terjadi terus menerus diakibatkan karena ulah manusia yang telah mencampakkan agama dan melupakan Tuhannya. Maka perlu adanya usaha untuk mengajak manusia kembali pada jalan Tuhannya yang telah jelas menghidupkan, memelihara dan mencukupi segala kebutuhannya hingga kematian datang kepadanya. Telah jelas kekuasaan Allah di muka bumi ini tapi sedikit sekali manusia yang mau memikirkannya. Kaum muslimin adalah sebagai umat Rasululllah yang telah diwarisi tuntunan hidup yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits, juga telah diwarisi kerja kenabian Dakwah Ilallah (mengajak orang taat kepada Allah). Telah dicontohkan pula oleh rasulullah tentang Mujahadah dalam jalan dakwah, bersungguh-sungguh mengorbankan seluruh yang ada untuk agama Allah SWT. Jika seluruh umat Islam telah mengerti akan amanat ini dan telah rela bermujahadah dalam jalan dakwah, maka Allah akan memberikan kesempurnaan amal sebagaimana Nabi dan para sahabat r.hum. Enam sifat sahabat tersebut terus menerus diulang-ulang dalam muzakaroh, bahkan telah menjadi bagian dari kerja jama'ah. Pada setiap kesempatan dalam jama'ah yang sedang Khuruj fi Sabilillah, enam sifat sahabat ini memiliki Halaqoh tersendiri yang disebut Halaqoh enam sifat sahabat. Halaqoh itu merupakan salah satu cara untuk membiasakan diri terhadap sifat-sifat tersebut dan diharapkan agar sifat-sifat tersebut dapat hadir dalam setiap diri jama'ah dan seluruh umat Islam.
------- Footnote : [1]lihat, Mufti Zainul Abidin Al-A'zhamy, (1997), Dalil-dalil Enam Sifat Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Ustadz A. Abdurrahman Ahmad, Bandung: Pustaka Sabila. [2] Dr. Muhammad Na'im, dalam Kembali Kepada Salaf, Buletin Mingguan, Edisi Mei (1992),Yogyakarta: Pustaka Majelis At-Turots, hlm. 7-10[3]lihat Ahmad Warson Munawir, (1984), Kamus Al-Munawir, Yogyakarta: Ponpes Al-Munawir Krapyak, hlm. 368 dan 374[4]Disampaikan pada targhib pelajar bulan 8 Februari 2001, pkl. 20.00 WIB, oleh Bpk. Yusuf di Markaz Yogyakarta.[5]Lihat Al-Qur'an dan Terjemahannya, Jakarta: Departemen Agama RI, hlm. 68-74[6] Shahih Bukhari, hlm. 330, dalam Dalil-dalil Enam Sifat, hlm. 111[7]Al-Qur'an, surat Al-Bayyinah ayat 5[8]Kitab Shohih Bukhari, hlm 2, Muslim, hlm. 141, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'I (At-Targhib), hlm. 15[9]lihat Ahmad Warson Munawir, op. cit. hlm. 439 dan 116
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment